Artikel

2.  Baptisan Kudus

Baptisan kudus adalah salah satu sakramen di gereja Protestan. Kata ‘sakramen’ berasal dari adat istiadat Romawi, yakni sacramentum, yang berarti: sumpah kesetiaan prajurit yang diucapkan di hadapan panji-panji kaisar; dan uang tanggungan yang harus diletakkan di kuil oleh dua golongan yang sedang berperkara.[1]

Gereja Roma Katolik menentukan 7 macam sakramen. Bagi mereka, angka 7 adalah gabungan antara angka 3 (angka Ilahi) dan 4 (angka manusiawi). Ketujuh sakramen tsb disejajarkan dengan 7 tahapan jalan hidup manusia menurut kodratnya. Jadi, ketujuh sakramen tsb memberkati hidup kodrati manusia dari awal sampai akhirnya. Ketujuh sakramen tsb adalah: baptisan (dikaitkan dengan kelahiran manusia), penguatan iman (dikaitkan dengan pertumbuhan tubuh dari kanak-kanak ke puber), ekaristi/perjamuan kudus (dikaitkan dengan gizi), pengakuan dosa dan peminyakan (dikaitkan dengan penyembuhan), penahbisan imam/imamat, dan perkawinan (dikaitkan dengan penyempurnaan bagi persekutuan).[2]

Namun, Gereja Protestan menganggap hanya ada 2 sakramen, yakni: baptisan dan perjamuan kudus. Perbedaan jumlah ini dikarenakan pengertian tentang hakekat sakramen. Gereja Roma Katolik menganggap sakramen adalah alat untuk mencurahkan karunia adikodrati kepada kehidupan seseorang; sedangkan menurut Gereja Protestan, sakramen dipandang sebagai tanda dan meterai yang ditetapkan Tuhan untuk mensahkan janji-janjiNya di dalam Injil, yakni janji tentang pengampunan dosa dan hidup yang kekal.[3]

Suatu ‘tanda’ tidaklah memiliki arti pada dirinya sendiri, tetapi menunjuk pada sesuatu makna yang lain, di luar dirinya sendiri. Suatu tanda yang kelihatan dipakai Allah untuk membuat manusia lebih memahami janjiNya. Misalnya: pelangi adalah tanda perjanjian Allah kepada Nuh, bahwa Ia tidak akan lagi menghukum manusia di bumi dengan air bah (Kej. 9:11-13). Sunat adalah tanda perjanjian Allah dengan Abraham beserta keturunannya (Kej. 17:9-11). Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus juga disebut sebagai tanda yang menyatakan kemuliaanNya (Yoh. 2:11,23; 3:2). Sakramen adalah suatu tanda untuk menyatakan makna rohani yang penting, yakni pengorbanan Yesus yang berkhasiat untuk mengampuni dosa dan memberi hidup yang kekal kepada umatNya.

Selain itu, sakramen juga merupakan meterai yang dipakai untuk mene-guhkan dan mengesahkan janji-janji Allah. Misalnya: sunat, dalam PL, adalah meterai kebenaran berdasarkan iman Abraham (Roma 4:11). Di dalam PB, sunat telah diganti dengan baptisan (Kol. 2:11-12). Demikian pula dengan perjamuan

 

kudus yang menunjuk pada tubuh dan darah Kristus yang memeteraikan perjanjian baru antara Allah dengan umatNya (1 Kor. 11:25).

Sakramen itu sendiri tidaklah mengandung daya yang dapat menguatkan iman. Sakramen bukanlah ‘obat kuat’. Yang dapat menguatkan iman adalah Roh Kudus. Dialah yang menguatkan iman umatNya melalui perantaraan sakramen. Oleh karena itu, sakramen tidak dapat dipisahkan dari kuasa Roh Kudus. Hal ini perlu untuk dipahami untuk menghindari pemahaman magis dari sebagian orang tentang sakramen.

Mari kita pelajari lebih lanjut tentang baptisan kudus. Setelah kebangkitanNya, Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk menjadikan semua bangsa muridNya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Ada beberapa hal kontroversial yang berkaitan dengan baptisan air.  Berikut ini dipaparkan tentang masalah dan penjelasannya.

 

1.  Mengapa harus pakai air?

Gereja “Bala Keselamatan” tidaklah mempraktekkan baptisan air.[4] Para orang tua “menahbiskan” anak-anak mereka kepada Tuhan di bawah bendera Bala Keselamatan dalam suatu kebaktian. Bagi mereka yang terpenting adalah baptisan Roh yang terjadi pada saat seseorang ‘dilahirkan kembali’ dan diilhami oleh kasih Allah, dan bukan baptisan air.

Tentunya penggunaan bendera tidaklah terdapat di dalam Alkitab. Penahbisan dengan cara itu adalah ciri khas “Bala Keselamatan” yang bercorak militeristik dengan pangkat-pangkat yang menyertainya.

Air dipakai di dalam baptisan karena air berfungsi untuk membersihkan kotoran dari tubuh manusia. Jadi, air melambangkan kasih Yesus yang mampu membersihkan manusia dari dosa. Air juga memberi kemungkinan untuk semua mahluk dapat hidup. Yesus datang untuk memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepadaNya (Yoh. 5:24).

 

2.  Apakah baptisan menyelamatkan?

Pada satu pihak, baptisan merupakan perintah langsung dari Tuhan Yesus.  Ia berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk. 16:16). Dari ayat ini jelas dinyatakan, bahwa iman mendahului baptisan. Namun, dikatakan “siapa yang tidak percaya akan dihukum”, dan tidak dikatakan “siapa yang tidak dibaptis”.

 

Memang baptisan penting. Tetapi, ada juga pengecualian, yakni penjahat yang disalibkan di sebelah Yesus. Dia bertobat tetapi tidak sempat dibaptiskan (cat.: karena sudah berada di salib). Namun Yesus berkata kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Tentunya, pengecualian ini tidak bisa dijadikan sebagai standard untuk mengijinkan orang lain berbuat sedemikian. Keselamatan bagi penjahat itu sungguh-sungguh anugerah Tuhan di ambang kematiannya.

Namun, ada juga gereja tertentu yang menganggap bahwa baptisan itu menyelamatkan. Bagi Gereja Roma Katolik, yang dipengaruhi oleh filsafat Realisme Aristoteles[5], sakramen berisikan anugerah yang ia tandai. Jadi, anugerah Allah berada di dalam sakramen itu juga. Sehingga setiap orang yang menerimanya, mendapatkan manfaat keselamatan yang diberikannya (cat.: istilah Latinnya adalah ex opere operato).  Pemahaman seperti itu bisa berdampak kepercayaan mistis. Orang dapat memberhalakan air baptisan karena dianggap mempunyai kekuatan magis.

Kepercayaan seperti itu, disadari atau tidak, telah mempengaruhi keyakinan gereja-gereja tertentu yang nota-bene bukanlah gereja Roma Katolik. Misalnya, sebelum upacara baptisan, sang Pendeta terlebih dahulu mendoakan serta memberkati air baptisan di dalam kolam supaya berkhasiat tertentu, misalnya: kesembuhan dari berbagai penyakit dan kelepasan dari roh jahat.

Sebenarnya baptisan tidaklah menyelamatkan. Tuhan Yesus menyelamatkan orang itu melalui iman kepadaNya. Baptisan sebenarnya merupakan tanda dari beberapa makna rohani yang penting:  pertama, orang yang percaya dibenarkan dan diberikan pengampunan dosa, seperti yang tercatat di dalam Kisah 2:38, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu . . . .” Dari ayat ini kita bisa ketahui, bahwa pertobatan mendahului baptisan.

Kedua, baptisan menandai kelahiran baru sebagai awal hidup yang baru. Rasul Paulus berkata, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru (Roma 6:4).

Ketiga, baptisan menandai masuknya orang yang dibaptis ke dalam perjanjian baru dengan Allah. Perjanjian Lama adalah perjanjian antara Allah dengan Abraham. Tanda perjanjian itu adalah sunat, seperti yang dikatakan di dalam ayat berikut ini, “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Inilah perjanjianKu yang harus kamu pegang . . . yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat” (Kej. 17:7,10).

Tanda sunat di dalam Perjanjian Baru digantikan dengan upacara baptisan, seperti yang dijelaskan oleh rasul Paulus sbb., “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu ….” (Kol. 2:11-12).

Keempat, baptisan juga menyatakan kesaksian di hadapan Allah, gereja Tuhan, umat manusia, dan Setan.  Di hadapan Allah, orang itu bertekad untuk taat kepada Allah saja melalui Tuhan Yesus. Di hadapan gereja Tuhan, ia berkata “Aku mau bergabung untuk berbakti dan melayani bersama dengan segenap umat Tuhan lainnya.” Di hadapan manusia, orang itu berkata, “Sekarang aku adalah pengikut Kristus.” Sedangkan, di hadapan Setan ia berkata, “Mulai saat ini aku putuskan hubunganku dengan Setan dan roh-roh jahat.”

Tidaklah cukup hanya percaya kepada Yesus di dalam hati saja. Kepercayaan itu harus berani dinyatakan secara terbuka, seperti yang Paulus katakan, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10). Selain itu Tuhan Yesus pernah berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan . . . .” (Mrk. 16:16).

 

3.  Baptis Selam ataukah Baptis Percik?

Salah satu isu yang seringkali diperdebatkan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia adalah baptis percik dan selam. Bagi sebagian denominasi gereja, metode tertentu dari baptisan malah menjadi ciri khas kelompok mereka dan ditetapkan sebagai syarat keanggotaan.

Metode baptis selam biasanya memakai dua cara, yakni: pendeta menelentangkan orang itu ke dalam air dan menyanggahnya dengan tangannya, lalu mengangkatnya kembali. Cara kedua adalah pendeta, dengan menekan kepala orang itu, membenamkannya ke dalam air (dipping).

Metode baptis percik juga ada beberapa cara, yakni: memercikkan air tiga kali (atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus). Ada yang memercikkan cukup sekali saja. Ada juga yang dengan menuangkan air ke atas kepala orang itu. Yang mana yang benar?

Gereja yang mempraktekkan baptisan selam biasanya memakai kata baptizw (baptizo) yang berarti: menyelam, dan memasukkan ke dalam air

berulang kali. Misalnya Lukas 16:24; Yoh. 13:26; Wah. 19:13, kata ini berarti ‘mencelupkan’.

Cara Yesus dibaptiskan, menurut mereka, adalah dengan diselamkan, seperti tertulis, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air[6] ….” (Mat. 3:16). Demikian pula ketika Filipus membaptiskan sida-sida dari Etiopia, “… dan keduanya turun ke dalam air … dan Filipus membaptis dia” (Kis. 8:38).

Di lain pihak, gereja yang mempraktekkan baptis percik atau tuang mempunyai argumentasi lain lagi. Kata ebaptisqh(ebaptisthe) berarti menuangkan air ke tangan, seperti yang tercatat di dalam Luk. 11:38. Tradisi Yahudi di dalam “mencuci tangan” adalah dengan cara menuangkan air (cat.: bukan mencelupkan) ke tangan mereka.

Kata lainnya adalah ebaptisanto (ebaptisanto) di dalam 1 Kor. 10:2 diterjemahkan sebagai “dibaptis dalam awan dan dalam laut”. Maksudnya adalah: dinaungi awan dan terkena percikan air laut Teberau.

Sebelum seorang Lewi menjalankan tugas di Bait Allah pada usia 30 tahun, ia harus mengikuti upacara pentahiran dengan cara dipercikkan air penghapus dosa, mencukur  seluruh tubuh dan mencuci pakaiannya (Bil. 8:7).

Memang, cara baptisan dengan selam lebih mudah menjadi kiasan kematian (penguburan) manusia lama dan kebangkitan manusia baru (Roma 6:4). Namun perlu diingat, bahwa cara penguburan orang Yahudi pada jaman Tuhan Yesus melayani di dunia ini bukan seperti penguburan yang dilakukan di Indonesia, yakni dengan memendamkan mayat itu ke dalam tanah, namun dengan memasukkan mayat itu ke dalam goa batu.

Didache[7] adalah suatu kumpulan pedoman pendek tentang hidup moral dan bergereja yang terdiri dari 16 pasal. Buku ini ditulis sekitar awal abad kedua Masehi. Di dalam bagian yang disebut “Dua Jalan” terdapat pembahasan tentang baptisan sbb.,

 

Berkenaan dengan baptisan, baptiskanlah sbb.: setelah mengucapkan hal yang diatas (cat.: bersangkutan dengan iman, pertobatan, dll) …. Baptiskanlah mereka di dalam air yang mengalir di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Jikalau kalian tidak memiliki air yang mengalir, baptiskanlah mereka di dalam air yang lain; jikalau kalian tidak dapat

melakukannya dalam air yang dingin, maka lakukanlah di dalam air yang hangat. Tetapi jikalau kalian tidak dapat melakukannya juga, maka tuangkanlah air tiga kali di atas kepala mereka ‘di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus

 

Jadi, dari Didache tsb kita bisa simpulkan, bahwa metode baptisan bisa fleksibel tergantung situasi dan kondisinya. Jika sarananya memungkinkan, baptisan bisa dilakukan di dalam ‘air yang mengalir’ atau bisa juga di ‘air yang lain’ (cat.: air yang tidak mengalir); dapat pula memakai air dingin atau air hangat. Namun, kalau ada kesulitan tertentu, yakni mungkin karena jumlah airnya tidak mencukupi atau orang yang akan dibaptis itu sedang sakit dan kondisinya tidak memungkinkan, maka sakramen baptisan dapat dilakukan dengan cara menuangkan air di atas kepalanya.

4.  Baptis Bayi (Infant Baptism) atau Penyerahan Anak (Pencaosan)?

Sebagian gereja menyelenggarakan baptisan bayi dan banyak pula yang melakukan upacara ‘penyerahan anak’ (pencaosan anak). Yang mana yang benar? Masing-masing kelompok mencari dukungan ayat firman Tuhan. Gereja yang melakukan ‘penyerahan anak’ biasanya mengutip Matius 19:14-15 sebagai dasar ajaran mereka,

“Tetapi Yesus berkata, ‘Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.’ Lalu Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.”

 

Selain ayat tsb, biasanya argumentasi mereka adalah baptisan itu hanya dilakukan bagi orang-orang yang sudah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus (believers’ baptism). Bayi-bayi belum dapat mengaku percaya. Rasul Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirmu dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu . . . .” (Kis. 2:38). Di dalam ayat ini dijelaskan, bahwa pertobatan mendahului baptisan. Demikian pula perkataan Tuhan Yesus di dalam Markus 16:16, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan . . . .” Jadi jelas, bahwa baptisan hanya untuk orang-orang yang sudah bisa mengaku percaya, sedangkan bagi bayi-bayi hanya dilakukan ‘pencaosan’. Setelah menjadi besar, mereka mengikuti katekisasi dan baru bisa dibaptiskan.

Kelompok gereja yang melakukan ‘baptisan bayi’ mempunyai argumentasi lain lagi. Biasanya mereka mengaitkan baptisan dengan upacara sunat di dalam masa Perjanjian Lama yang menjadi tanda Perjanjian Allah kepada Abraham (sebagai ‘Bapa orang beriman’). Demikianlah Allah berfirman kepada Abraham, “Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat…. Anak yang berumur 8 hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu . . . ..” (Kej. 17:10-12).

Tentulah bayi-bayi yang disunat itu belum mengerti firman dan belum bisa mengakui iman mereka kepada Yahweh. Namun, berdasarkan iman orang tua, mereka dimasukkan ke dalam kelompok perjanjian Allah. Hal ini disebut dengan istilah ‘the grace of God is prior to human response’ (anugerah Allah mendahului respon manusia).

Namun sunat hanya untuk anak lelaki saja. Apakah itu berarti bahwa perjanjian Allah hanya untuk pria? Tidak! Perjanjian Allah adalah untuk seluruh ‘keturunan Abraham turun-temurun’ (Kej. 17:7). Cuma dalam PL, Tuhan memandang cukup hanya laki-laki dan anak lelaki saja yang menerima tanda perjanjian itu.

Sunat secara jasmani  tidaklah menyelamatkan; yang lebih penting adalah perubahan hati, “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ul. 10:16). Tuhan membenarkan orang beriman. Sunat mengandung tuntutan iman, seperti yang dilakukan Abraham, “Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum bersunat (Roma 4:11-12).

Di dalam PB, tanda sunat itu diganti dengan baptisan (Kol. 2:11-12). Sama seperti pada masa PL, perjanjian Allah adalah untuk seluruh ‘keturunan Abraham turun-temurun’ (Kej. 17:7), demikian pula di dalam PB, seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kis. 2:39). Janji itu maksudnya adalah hal pengam-punan dosa dan karunia Roh Kudus (bnd. ayat 38).

Seperti orang Israel membawa bayi-bayi mereka untuk disunat, maka para orang tua Kristen membawa bayi-bayi mereka untuk dibaptiskan. Dengan perbuatan demikian, mereka diingatkan untuk mendidik anak-anak itu di jalan Tuhan, sehingga pada suatu saat nanti, setelah mengikuti katekisasi, anak-anak itu dapat mengakui iman percaya mereka di hadapan Tuhan dan jemaatNya di dalam upacara SIDI.[8]

Apakah ‘baptisan bayi’ ini tidak bertentangan dengan ayat yang mengatakan, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis….” (Kis. 2:38)? Tidak!  Sebab seruan di dalam Kisah 2:38 itu berlaku untuk semua penginjilan. Bayi-bayi belum bisa diinjili karena mereka belum bisa mengerti, tidak demikian halnya dengan orang-orang dewasa. Para bayi dari umat Tuhan perlu diberikan tanda dari perjanjian Allah, yakni baptisan. Baru kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, mereka diajarkan firman Tuhan yang menuntun mereka ke dalam pertobatan dan keselamatan.

Setelah mengikuti diskusi di atas, berikut ini adalah kesimpulannya:

1.       Baptisan air adalah perintah Tuhan, tetapi baptisan itu sendiri tidaklah menyelamatkan. Iman kepada Tuhan Yesus-lah yang menyelamatkan.

2.      Metode baptisan air bukanlah yang terpenting. Baptis selam atau percik ataupun tuang masing-masing memiliki ayat-ayat pendukung di dalam Alkitab. Yang terpenting adalah makna baptisan itu.

3.      Baik penyerahan anak maupun baptisan bayi  masing-masing memiliki dukungan ayat dalam Alkitab. Kedua upacara itu tidaklah secara otomatis menyelamatkan si anak; tetapi melalui upacara itu para orang tua diingatkan untuk membimbing anak-anak mereka kepada jalan Tuhan, sehingga pada saatnya nanti anak-anak itu secara pribadi mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat mereka. Pencaosan anak maupun baptisan bayi hanya dapat dilakukan bagi anak-anak yang mempunyai orang tua sudah percaya Tuhan Yesus (cat.: kalau bukan suami-istri yang sudah percaya, minimal salah satu dari mereka).

4.      Dengan pemahaman ini, diharapkan setiap gereja dapat saling mengerti satu dengan lainnya. Gereja tidak perlu memperdebatkan, apalagi terpecah-belah disebabkan oleh hal-hal yang sekunder. Biarlah yang relatif jangan dimutlakkan, sebaliknya yang mutlak jangan direlatifkan.

 


[1] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), 424-25.

[2] Ibid., 426.

[3] Ibid.

[4] Pada mulanya, sebagai mantan pendeta di gereja Metodis, William Booth mengakui dan melayani baptisan air. Anak-anaknya juga dibaptiskan. Para pengikutnyapun pada mulanya, dan di tempat-tempat tertentu, tidak dilarang menerima sakramen itu.  Namun, sejak keputusan William Booth, tanggal 2 January 1883, Gereja “Bala Keselamatan” tidak lagi melayani ataupun mengakui kedua sakramen (baptisan dan perjamuan kudus). (Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996], 281, 284).

[5]Artinya adalah hal yang nyata berada di dunia ini yakni yang kita lihat. Ajaran ini bertentangan dengan filsafat idealisme dari Plato yang berkata, bahwa hal yang nyata berada di dunia ide.

[6] Ayat ini oleh mereka yang mempraktekkan baptis percik / baptis tuang ditafsirkan sbb.: Yohanes Pembaptis adalah anak dari imam Zakharia, jadi ia tahu upacara pentahiran di Bait Suci, yakni dengan cara memercikan air penghapus dosa (Bil. 8:7). Menurut tafsiran mereka, orang-orang itu memang ‘masuk ke air’ sungai Yordan, cuma hal itu tidak mesti bahwa mereka ditenggelamkan ke dalam air, tetapi mereka cukup berdiri di air, lalu Yohanes Pembaptis memercikkan air ke atas kepala mereka, atau menuangkan air ke atas kepala mereka (sebagai lambang pencurahan Roh Kudus).

[7] Geoffrey W. Bromiley, ed., The International Standard Bible Encyclopedia, vol. 1: A-D (Grand Rapids, MI: Wm B. Eerdmans Publishing Co., 1992), s. v. “Apostolic Fathers,” by J. R. Michaels.

[8] Upacara ‘sidi’ ini mengingatkan kita akan tradisi Israel di dalam PL. Pada usia 12 tahun, setiap anak lelaki Yahudi harus dibawa ke Bait Allah dan menjadi ‘anak Torat’, maksudnya adalah mulai usia 12 tahun mereka harus melakukan kewajiban Torat (bnd. Luk. 2:41-42). Demikian pula sekarang, setiap anak yang berusia 12 tahun, yang pada waktu bayinya sudah dibaptis, wajib mengikuti katekisasi dan  di-‘sidi’ (mengakui imannya di hadapan jemaat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: