Renungan

2. BERSAMA-SAMA MEMBANGUN KERAJAAN ALLAH Ezra 4:1-3

(Oleh: Pdt. Mozes Manuputty, MTh – MPS-Bid. Teologi & Pengajaran)

PENDAHULUAN

Berperan serta di dalam pekerjaan Allah, bukan merupakan pilihan namun suatu keharusan, sebab setiap orang percaya tidak hanya dipanggil untuk percaya, namun diberikan perlengkapan oleh Allah sendiri, melalui talenta, dan karunia, agar terlibat dalam pekerjaan-Nya yang mulia dan agung.

Dikatakan bahwa berperan dalam pekerjaan Tuhan merupakan mutlak, sebab ketika istilah berperan dalam pekerjaan Tuhan dikemukakan, maka istilah ini berada di dalam kategori kata yang bersifat imperatif (=perintah), sehingga setiap pribadi, dan institusi Kristen sewajarnya harus bersumbangsih dalam pekerjaan mulia dan agung ini.

Melalui goresan tulisan yang sederhana ini, landasan firman Tuhan di ambil dari Ezra 4:2; dengan konteks bahwa ketika Tuhan mengijinkan Nabi Ezra dan rombongan Israel pulang dari pembuangan, maka mereka memiliki tekad untuk membangun kembali rumah Tuhan, karena rumah Tuhan telah hancur, sehingga harus di bangun kembali. Di dalam merealisasikan apa yang dikehendaki Yahweh, khususnya untuk membangun Bait Suci bagi TUHAN (Ibrani, BOOWNIYM  HEEYKAAL LA-YAHWEH ELOHEEY YISRAA’EEL), maka ada langkah-langkah konkrit yang dilakukan.


  1. SELEKTIVITAS DALAM MEMBANGUN BERSAMA-SAMA

Motif utama untuk bersamasama untuk membangun adalah karena adanya perlawan atau musuh (Ibrani, TEAAREEY) yang artinya: the adversaries (= musuh/lawan). Sebab mereka yaitu musuh ingin ikut bersama/ikut campur (a mixed race) dalam membangun yakni pemimpin-pemimpin  asing (chiefly foreign) (Albert Barns Commentary).


Musuh yang dimaksud dalam konteks ini adalah orang-orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat, dan Sefarwaim, yang diangkut oleh Raja Asyur untuk mendiami kota-kota Samaria, sebagai ganti orang Israel; Allah Israel kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan singa-singa yang membunuh beberapa orang, sehingga mereka memohon agar Raja Asyur mengirimkan seorang pengajar/pelayan kepada mereka untuk mengajarkan tentang Allah Israel, dan bagaimana harusnya berbakti kepada-Nya, namun nyatanya mereka tetap hidup dalam sinkritisme (band. 2 Raj.17:24-34).


Mereka inilah yang dimaksud dengan musuh/lawan dari orang dari Yehuda dan Benyamin, yang ingin berpartisipasi ketika kedua suku Israel ini bertekad untuk membangun kembali Bait Suci bagi TUHAN (ay.1). untuk maksud ini, maka yang disebut sebagai musuh ini, mendekati Zerubabel dan para kepala kaum keluarga Israel, agar partisipasi mereka diterima, sebab mereka menganggap bahwa merekapun pernah berbakti kepada Allah Israel (ay. 2). Namun Zerubabel dan para kepala kaum keluarga orang Israel, dengan tegas mengungkapkan bahwa, walaupun mereka ingin berpartisipasi, namun pada prinsipnya Israel sendirilah yang hendak membangun bagi TUHAN (=YAHWE) (ay. 3).


Di dalam hal inilah kita melihat adanya prinsip, selektifitas yang tegas dan akurat dari para pemimpin Israel ketika akan membangun Bait Suci bagi Yahwe. Konsep ini mengindikasikan bahwa ketika pekerjaan Allah akan dilaksanakan, maka bukan hanya tekad untuk membangun, juga kebersamaan untuk membangun yang perlu digalang, namun juga urgennya kepekaan bagi peserta yang berkeinginan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan yang mulia dan agung ini. Sebab pekerjaan ini hanya diperuntukkan kepada anak-anak Tuhan yang Ia kehendaki., bukan kepada setiap orang yang ingin berpartisipasi; termasuk mereka yang dulunya pernah belajar dan beribadah kepada Allah, namun juga hidup di dalam masa lampau mereka, khususnya menyembah kepada allah mereka juga (sinkritisme).


  • KEHARUSAN MEMBANGUN BERSAMA-SAMA BERBASIS THEOSENTRIS

Ketika melaksanakan pekerjaan yang baik, agung dan mulia ini, maka yang utama adalah mengerti bahwa pekerjaan ini bersifat imperatif (= perintah), sehingga hanya membutuhkan respon ketaatan, bukan kehendak sendiri untuk memilih; hal ini dungkapkan oleh Zerubabel dan para kepala kaum keluarga orang Israel oleh karena perintah Koresy, raja negeri Persia (ay. 3).


Kalimat yang penting untuk diperhatikan adalah perintah Koresy, raja negeri Persia. Sebab raja kafir ini memberikan perintah untuk membangun kembali Bait Suci bagi TUHAN, bukan atas dasar keinginan sendiri, namun oleh karena hatinya digerakkan oleh TUHAN, dan Koresy sendiri menyadarinya, sebab itu ia mengatakan bahwa: “….Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda” (Ez. 1, 2). Jadi, dalam konteks ini, Koresy berperan sebagai representatif Allah, artinya, Allah Israellah yang memerintahkan Koresy untuk memberi kesempatan orang Isreal membangun kembali Bait Suci.


Sebab itu kehendak untuk membangun Bait Suci bukan bersifat anthroposentris (berpusat pada kehendak manusia), tetapi bersifat Theosentris (berpusat kepada kehendak Allah). Konteks ini menunjukkan bahwa seorang raja kafirpun harus tunduk, taat kepada kehendak Allah tanpa syarat apa pun. Sebab  ia sadar bahwa Allah yang menugaskannya untuk pekerjaan mulia dan agung ini. Jadi, yang merencanakan, perancang awal dan mutlak (absolut) dalam pembangunan Bait Suci adalah Allah sendiri, sehingga seluruh umat, termasuk raja kafir ini, hanya bisa mentaatinya.


  • URGENNYA DALAM MEMBANGUN BERSAMA-SAMA

Jika diperhatikan dengan seksama, maka ada 3 kali kata dalam bentuk jamak, khususnya kata kami, yakni di ayat 2 yang dicetuskan oleh para musuh, dan kata ini muncul juga dari para pemimpin Israel di ayat ke 3 sebanyak 2 kali (oleh Zerubabel dan para pemimpim keluarga orang Israel).


Jadi, pembangunan ini harus dilakukan secara kolektif, yakni mereka yang masuk dalam kategori sebagai umat Israel, khususnya Israel bagian Selatan, yang beribukota Yeruselem, yang harus membangun, dan ini terlihat dari kesepakatan setiap para kepala kaum keluarga di Israel. Kesadaran yang bersifat proposional ini, yakni sebagai umat TUHAN, memotivasi seluruh orang Israel untuk bersama-sama membangun Bait Suci.


Konsep ini mengindsikasikan bahwa pembangunan Bait Suci adalah pekerjaan bersama sebagai umat TUHAN, bukan pekerjaan pribadi tertentu sebagai umat TUHAN. Kebersamaan untuk membangun merupakan beban yang ditanamkan, dan diperintahkan TUHAN untuk dikerjakan dan dikaryakan secara bersama; bukan melalui pribadi tertentu, tetapi seluruh umat TUHAN (YAHWE).


  • MEMBANGUN BERSAMA-SAMA HANYA BAGI DIA/KERAJAAN-NYA

Dalam konteks ini, ada dua ayat yang mengungkapkan bahwa membangun bersama-sama hanya bagi Dia/Kerajaan-Nya (ay. 1, 3). Ayat yang 1, dalam konteks musuh mendengar, namun di ayat 3 merupakan tekad kolektif dari para pemimpin Israel untuk membangun bersama-sama Bait Suci bagi TUHAN, Allah Israel (Ibraninya, BOOWNIYM HEEYKAAL LA-YAHWEH ELOHEEY YISRAA’EEL) (Interlinoier Old Testament= Thayer).


Jadi, Bait TUHAN yang dibangun bukan untuk Zerubabel, untuk para pemimpin keluarga orang Israel, juga bukan untuk Koresy, raja negeri Persia; walaupun orang Israel menggunakannya sebagai tempat beribadah, tetapi ibadah orang Israel yang membangun bersama-sama pun hanya untuk Allah (= bersifat Personal) dan Kerajaan-Nya.


Implementasinya bagi pekerjaan Tuhan bersama pada masa kini adalah, bahwa apa yang kita kerjakan dalam gereja lokal maupun secara sinodal, semuanya bukan untuk kepentingan pribadi tertentu dalam gereja, atau untuk kepentingan sinode, atau pengurus sinode atau pun gereja lokal tertentu. Namun, semuanya harus berorientasi bagi Allah, melalui wadah tertentu yang dikehendaki-Nya, sehingga yang dimuliakan dalam pelayanan bersama adalah Allah sendiri, ya hanya bagi Dia semata-mata.


  • MEMBANGUN BERSAMA-SAMA HANYA MELALUI VISI PRIBADI TERTENTU YANG DIPERCAYAKAN ALLAH

Memahami bahwa harus membangun bersama Allah singkapkan atau bisa sebut Allah mempercayakan visi-Nya hanya melalui seseorang, yaitu pemimpin saat itu; dalam hal ini visi untuk membangun kembali diberikan oleh Allah kepada Koresy, raja negeri Persia,  untuk menggenapi nubuat Nabi Yermia (band. 2 Taw. 36:22-23).


Dalam konteks ini, visi ini tidak diberikan kepada Zerubabel atau para pemimpin keluarga orang Israel, melainkan hanya melalui seorang raja kafir, yakni Koresy, raja negeri Persia, yang Allah pilih, tetapkan, untuk menerima, dan menyampaikan perintah Allah kepada Zerubabel dan para pemimpin keluarga orang Israel, yang kemudian mensosialisasikan kepada seluruh umat Israel dan kemudian berperan aktif dengan seluruh bangsa israel untuk mewujudkan visi Allah terhadap pembangunan Bait Suci-Nya. Jadi pribadi yang Allah pilih, tetapkan dan tugaskan untuk menerima, mensosialisasikan adalah seorang raja/pemimpin.


Konsep ini mengindikasikan bahwa: tidak pernah visi Allah untuk pekerjaan pelayanan-Nya datang melalui meja rapat, atau kepada semua umat Allah, tetapi kepada dan melalui seorang pemimpin yang kemudian disosialisasikan untuk ditaati, bukan diprotes atau dipermasalahkan. Sebab Allah-lah yang empunya visi, dan Ia berhak memilih,menetapkan dan menugaskan kepada pribadi tertentu untuk mensosialisasikan visi-Nya kepada seluruh umat untuk ditaati secara konsisten.


  • KONKLUSI

Akhirnya, melalui pembelajaran Firman Tuhan ini, kita seluruh insani GKRI yang berada di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri, menyadari bahwa Allah menghendaki seluruh insan GKRI untuk bersama-sama melalui wadah spesial yang Allah perkenankan kita ada di dalamnya, bersama-sama berperan aktif membangun pekerjaan Tuhan di GKRI. Kebersamaan merupakan faktor penting bagi kita di GKRI, sebab Dial-ah, Sang Kepala Gereja yang mengarahkan, dan membawa kita untuk ada di wadah GKRI ini, sehingga kita harus bersama-sama berpartisipasi aktif membangun pelayanan di GKRI.


Pembangunan bersama ini, harus bersifat Theosentris/Kristosentris, yakni berpusat pada Allah/Kristus, bukan membangun kerajaan gereja lokal, atau pembangunan gereja gembala sidang/majelis, tetapi berorientasi bagi Allah semata-mata.  Di dalam membangun bersama, tenrunya harus memperoleh visi dari Allah sendiri, dan visi itu Allah berikan, percayakan melalui seorang pemimpin, yakni pimpinan di MPS; contoh ketika Israel harus ke tanah Kanaan, maka visi Allah itu dipercayakan/diberikan Musa; itulah sebabnya visi di GKRI diberikan dan datang melalui pemimpin di MPS GKRI, yang kemudian disosialisasikan kepada seluruh insan GKRI untuk bersama-sama dikerjakan, demi untuk membangun Kerajaan-Nya, melalui wadah ini.


Akhirnya, SELAMAT HARI NATAL 2010, & MEMASUKI  TAHUN BARU 2011, SOLI DEO GLORIA!!! Biarlah Firman Tuhan ini memberi wawasan teologis yang akurat secara kognitif spiritual dan juga membangun manusia batiniah kita seluruh insan GKRI di manapun berada.

 

 

 

 

1.  MENJADI GEREJA YANG MENGASIHI, BERDOA, BERSAKSI DAN MENGUTUS

Pengamsal berkata, “Jika tidak ada visi, masyarakat binasa” (Where there is no vision, the people perish, Amsal 29:18, KJV). Visi itu tentunya harus datang dari Allah sendiri yang membimbing umatNya. Sebagai pendiri GKRI, Pdt. Sutjiono mencanangkan visi gereja kita, yakni: menjadi gereja yang mengasihi, berdoa, bersaksi dan mengutus.

Gereja Filipi dan surat kepada jemaat Filipi memberikan kita beberapa mutiara rohani yang indah tentang tema kita ini. Mari kita pelajari berikut ini:

1.       Gereja yang mengasihi.

Gereja Filipi dikenal sebagai gereja yang mengasihi hamba Tuhan, yakni rasul Paulus. Ketika sang rasul meninggalkan Makedonia, jemaat Filipilah yang mendukung pelayanan sang rasul. Juga ketika Paulus di Tesalonika, merekalah yang mendukung hambaNya beberapa kali (Fil. 4:15-16).

Kasih mereka juga dinyatakan ketika sang rasul dipenjarakan, karena Injil Tuhan, di kota Roma. Mereka mengirimkan Epafroditus untuk membawa bantuan, sekaligus mengutus Epafroditus guna menemani sang rasul (Fil. 2:25).

Memang, ada koreksi yang diberikan sang rasul kepada jemaat Filipi, yakni di antara mereka terjadi konflik di antara dua wanita aktifis gereja, yakni: Euodia dan Sintikhe; sehingga Paulus menasehati mereka agar sehati, sepikir di dalam Tuhan (Fil. 4:2).

Kasih Kristiani adalah kasih yang unik, yakni AGAPE. Agape adalah kasih yang tidak bersyarat, sehingga dapat dicirikan dengan satu kata yakni: MESKIPUN. “Meskipun saya sudah mengecewakan Tuhan, namun Ia tetap AGAPE kepadaku.” Allah itu Agape (1 Yoh. 4:16).

Agape tidaklah dimiliki oleh manusia yang berdosa. Kasih manusia adalah kasih yang bersyarat, yang dicirikan dengan kata KALAU. “Aku mengasihi engkau, kalau engkau tetap cantik/gagah atau kaya.” Agape dapat kita refleksikan di dalam kehidupan sesehari jika kita bersekutu erat dengan Tuhan Yesus, seperti carang anggur menempel pada pokoknya (Yoh. 15:1-8).

2.      Gereja yang berdoa.

Di dalam surat Filipi, Paulus mengajar jemaatNya bagaimana berdoa. Sang berdoa dengan sukacita (Fil. 1:4). Berdoa adalah suatu hak istimewa yang dikaruniakan kepada umatNya. Betapa tidak? Tidaklah mudah untuk bertemu dengan seorang bupati, gubernur, menteri, apalagi Presiden. Namun, betapa mudahnya untuk berbicara dengan sang Raja segala raja, yakni cukup dengan menyebut “Dalam nama Tuhan Yesus” (Yoh. 14:13-14).

Doa bukanlah sekedar untuk mencari ‘tangan Allah’ (=berkatNya) tetapi ‘wajah Allah’ (=PribadiNya, Mz. 27:8). Betapa sedihnya seorang ayah, jika anaknya hanya mau bersekutu dengannya pada saat ada kebutuhan. Seorang anak yang baik rindu bersekutu dengan orang tuanya walaupun tidak ada permintaan apa-apa yang akan disampaikan.

Doa Kristiani adalah doa yang tidak memaksakan kehendak pribadi kepada Allah, tetapi mau menundukkannya di bawah kehendak Allah. Hal ini mengikuti teladan doa Tuhan, “Bukankah kehendakKu, tetapi kehendakMu yang jadi” (Mrk. 14:36).

3.      Gereja yang bersaksi

Bersaksi adalah salah satu tugas utama dari Tuhan bagi gerejaNya. Roh Kudus bersaksi tentang Yesus (Yoh. 15:26) dan mau mengurapi umatNya dalam  bersaksi bagi Tuhan (Yoh. 15:27; Kis. 1:8).

Kata ‘saksi’ dalam bahasa aslinya adalah ‘martus’; dari kata ini muncullah kata ‘martir’. Jadi seorang ‘saksi’ yang benar perlu bersiap diri menjadi martir. Syarat utama bagi seorang saksi adalah ia harus mengalami sendiri apa yang disaksikan. Dia tidak bersaksi tentang sesuatu yang ‘menurut kata orang’, tetapi apa ia sendiri alami di dalam kehidupannya tentang kasih Tuhan.

Seorang saksi yang hidup tidak terpengaruh oleh keraguan lingkungannya, Dia hanya berkata, “Dahulu aku buta (mis.: secara rohani), sekarang aku melihat—itu karena jamahan Tuhan” (bnd. Yoh. 9:25).

Bersaksi tidaklah membutuhkan penguasaan teologis yang mendalam. Bersaksi hanya menyampaikan pengalaman pribadi bersama Tuhan + firman Tuhan yang dialami secara realita di dalam kebutuhannya.

4.      Gereja yang mengutus

Allah Bapa adalah Pengutus yang Agung. Dia mengutus AnakNya yang tunggal untuk menjadi ‘misionari’ ke dunia dengan tugas menyelamatkan umatNya dari dosa (Yoh. 20:21).

Gereja Antiokhia telah dipakai Tuhan untuk mengutus misionari gereja yang pertama, yakni: Barnabas dan Paulus (Kis. 13:2-3). Gereja Filipi adalah gereja yang mengutus. Mereka mengutus Epafroditus untuk mendukung pelayanan rasul Paulus sambil menyediakan kebutuhan jasmaninya (Fil. 2:25)

Ladang pelayanan begitu luas, baik di negara kita maupun di manca negara. Biarlah perhatian kita bukanlah focus pada masalah-masalah pribadi saja, tetapi pada penggenapan misi Allah yang dipercayakan kepada umatNya.

Injil tidak akan sampai di tanah Batak jika tidak ada Nommensen yang diutus. Penduduk Cina yang ratusan juta orang waktu itu tidak akan mendengarkan Injil keselamatan jika Hudson Taylor tidak diutus menjadi misionariNya.

Rasul Paulus menjelaskan tentang pentingnya pengutusan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? (Roma 10:13-15). Amin!  *) Pdt. Roby Setiawan, Th.D

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: